Selasa, 21 November 2017

Makalah Perkembangan Psikologi Anak tentang Perkembangan Konsep Diri Deosen Pengampu : Ruski, M.Pd



KATA PENGANTAR

              Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan izin-Nya lah sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini. Adapun penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik.
              Makalah ini berjudul “Perkembangan Konsep Diri”. Dalam makalah ini di jelaskan mengenai pengertian konsep diri, dimensi konsep diri, faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri, perkembangan konsep diri remaja, karakteristik konsep diri remaja (SMP-SMA), konsep diri dan perilaku, konsep diri dan prestasi belajar.
              Makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari Pembaca untuk melengkapi kekurangan makalah ini guna penyusunan makalah selanjutnya.
              Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi Pembaca. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih.






Bangkalan,  16 Mei 2017


                                                                                                            Penulis


              Konsep diri bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir, ketika kita lahir, kita tidak memiliki konsep diri, tidak memiliki pengetahuan tentang diri, dan tidak memiliki pengharapan apa pun terhadap diri kita sendiri. Konsep diri terbentuk melalui proses belajar yang berlangsung sejak masa pertumbuhan hingga dewasa.
              Konsep diri adalah pandangan atau kesan individu terhadap dirinya secara menyeluruh yang meliputi pendapatnya tentang dirinya sendiri maupun gambaran diri orang lain tentang hal-hal yang dapat dicapainya yang terbentuk melalui pengalaman dan interpretasi dari lingkungannya.
              Kini, di saat pendidikan menjadi tulang punggung untuk menciptakan individu yang berkualitas, pembentukan konsep diri positif pada anak didik adalah suatu hal yang tak dapat ditinggalkan, yang harus dilakukan secara kontinyu dan menyeluruh pada setiap tahapan perkembangan anak didik. Di luar rumah, aktivitas kelas dan lingkungan sekolah memberikan warna terhadap pembentukan imdividu anak didik, yang dalam prosesnya peran guru adalah sangat vital. Keberhasilannya sangat ditentukan oleh ada atau tidaknya kesadaran, kemauan dan kreativitas guru untuk mengintegrasikan pembentukan konsep diri yang positif ke dalam kegiatan pembelajaran.
Berdasarkan latarbelakang diatas, maka timbul perumusan masalah sebagai berikut.
1.      Apakah yang dimaksud dengan konsep diri?
2.      Apakah dimensi-dimensi dari konsep diri?
3.      Apakah faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri?
4.      Bagaimana karakteristik konsep diri remaja (SMP-SMA)?
5.      Bagamanakah peran konsep diri dalam menentuka perilaku?
6.      Bagaimanakah hubungan antara konsep diri denga prestasi belajar?
7.   Bagaimana Implikasi Perkembangan Konsep Diri Peserta Didik terhadap Pendidikan?

Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut.
1.      Untuk mengetahui yang dimaksud dengan konsep diri.
2.      Untuk mengetahui dimensi-dimensi dari konsep diri.
3.      Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri.
4.      Untuk mengetahui konsep diri remaja (SMP-SMA).
5.      Untuk mengetahui konsep diri dalam menentuka perilaku.
6.      Untuk mengetahui hubungan antara konsep diri denga prestasi belajar.
7.    Untuk Mengetahui Implikasi Perkembangan Konsep Diri Peserta Didik terhadap Pendidikan.


            Banyak pengertian yang diberikan oleh para ahli mengenai konsep  diri. Fitts (dalam Agustiani, 2006: 138) mengemukakan bahwa konsep diri merupakan kerangka acuan (frame of reference) dalam berinteraksi dengan lingkungan. Agustiani (2006: 138) menjelaskan bahwa konsep diri merupakan gambaran yang dimiliki seseorang mengenai dirinya yang dibentuk melalui pengalaman-pengalaman yang dia peroleh dari interaksi dengan lingkungan. Konsep diri juga berarti kumpulan keyakinan dan persepsi diri mengenai diri sendiri yang terorganisasi. Konsep diri merupakan pemahaman individu terhadap diri sendiri meliputi diri fisik, diri pribadi, diri keluarga, diri sosial, dan diri moral etik, emosional aspiratif, dan prestasi yang mereka capai.
              Konsep diri merupakan salah satu aspek perkembangan peserta didik yang sangat penting dipahami oleh seorang guru. Hal itu karena konsep diri merupakan salah satu variabel yang menentukan dalam proses pendidikan. Oleh sebab itu, sudah seharusnya memahami tentang konsep diri anak didiknya, bagaimana perkembangannya, bagaimana hubungan konsep diri dengan perilaku dan bagaimana pengaruh konsep diri terhadap prestasi (Syarif, 2015 : 120).
              Hurlock (dalam Gufron, 2011: 13) mengatakan bahwa konsep diri merupakan gambaran seseorang mengenai diri sendiri yang merupakan gabungan dari keyakinan fisik, psikologis, sosial, emosional aspiratif, dan prestasi yang mereka capai. Konsep diri juga berarti gambaran tentang dirinya sendiri dalam bandingannya dengan orang lain. Konsep diri sebagai suatu produk sosial yang dibentuk melalui proses internalisasi dan organisasi pengalaman-pengalaman psikologis. Pengalaman-pengalaman psikologis inimerupakan hasil eksplorasi individu terhadap lingkungan fisiknya dan refleksi dari dirinya sendiri yang diterima dari kebanyakan orang di lingkungannya.
              Konsep diri dapat didefinisikan secara umum sebagai keyakinan, pandangan atau penilaian seseorang terhadap dirinya. Definisi lain menyebutkan bahwa Konsep diri merupakan semua perasaan dan pemikiran seseorang mengenai dirinya sendiri. Hal ini meliputi kemampuan, karakter diri, sikap, tujuan hidup, kebutuhan dan penampilan diri. Konsep diri adalah pandangan dan perasaan individu tentang dirinya sendiri yang dapat bersifat psikologis, sosial dan fisik.
             
Adapun pengertian konsep diri menurut para ahli adalah sebagai berikut.
a)             Rini (2004 : 12) konsep diri terbentuk melalui proses belajar sejak masa pertumbuhan seorang manusia sejak kecil hingga dewasa. Lingkungan, pengalaman dan pola asuh orang tua turut memberikan pengaruh yang signifikan terhadap konsep diri yang terbentuk. Sikap atau respon orang tua dari lingkungan akan menjadi bahan informasi bagi anak untuk menilai siapa dirinya. Perkembangan konsep diri adalah proses sepanjang hidup.
b)             Menurut Santrock (1996) menggunakan istilah konsep diri mengacu pada evolusi bidang tertentu dari diri sendiri.  Atwater (1987) menyebutkan bahwa konsep diri adalah keseluruhan konsep diri, yang meliputi persepsi seseorang tentang diri, perasaan, keyakinan, dan nilai-nilai yang berhubungan dengan dirnya. Atwater mengidentifikasi konsep diri atas tiga bentuk (dalam Syarif, 2015 : 120) yaitu :
1)             Body image, kesadaran tentang tubuhnya, yakni bagaimana seseorang melihat dirinya sendiri.
2)             Ideal self,  yatu bagaimana cita-cita dan harapan-harapan seseorang mengenai dirinya.
3)             Social self, yaitu bagaimana orang lain melihat dirinya.
              Para ahli psikologi juga berbeda pendapat dalam menetapkan dimensi konsep diri. Namun secara umum, sejumlah ahli menyebutkan 3 dimensi konsep diri, meskipun dengan menggunakan istilah yang berbeda-beda. Paul J. Centi menyebutkan ketiga dimensi konsep diri dengan istilah : dimensi gambaran diri (self-image), dimensi penilaian diri (self- evaluation), dan dimensi cita-cita diri (self-ideal).
              Sedangkan Calhoun dan Acocella (Syarif, 2015 : 121) menyebutkan 3 dimensi utama dari konsep diri, yaitu : dimesi pengetahuan, dimensi pengharapan, dan dimensi penilaian. Pengetahuan. Dimensi pertama pada konsep ini adalah apa yang kita ketahui tentang diri sendiri atau penjelasan mengenai gambaran diri sendiri. Gambaran diri tersebut pada gilirannya akan membentuk citra diri. Gambaran diri tersebut merupakan kesimpulan dari : pandangan kita dalam berbagai peran yang kita pegang, seperti sebagai orang tua, suami atau istri, karyawan, pelajar; pandangan kita tentang watak kepribadian yang kita rasakan yang ada pada diri kita; dan berbagai karakteristik yang kita lihat melekat pada diri kita sendiri.
Harapan. Dimensi kedua dari konsep diri adalah harapan atau diri yang dicita-citakan. Cita-cita diri terdiri atas aspirasi, harapan, keinginan bagi diri kita, atau menjadi manusia seperti apa yang kita inginkan. Harapan atau cita-cita diri akan membangkitkan kekuatan yang mendorong kita menuju masa depan dan akan memadukan aktivitas kita dalam perjalanan hidup kita. Penilaian. Dimensi ketiga konsep diri adalah penilaian kita terhadap diri kita sendiri. Penilaian diri sendiri merupakan pandangan kita tentang harga atau kewajaran kita sebagai pribadi.
              Joyce (2004 : 125) menyebutkan bahwa konsep diri terbentuk dari gambaran diri (self image) yang pembentuknya melalui proses bertanya pada diri sendiri,
·         “Siapakah saya?”
·         “Apa peran saya dalam kehidupan?”
·         “Bagaimana nilai-nilai yang saya anut?”
·         ”Baik atau buruk?”
·         “Ingin jadi seperti apa saya kelak?”
              Jawaban atas pertanyaan tersebut akan membentuk dari konsep diri yang kemudian membentuk penghayatan terhadap nilai diri. Proses bertanya pada diri sendiri tersebut merupakan proses untuk mengenal diri kita. Bila kita telah menemukan jawaban-jawaban atas pertanyaan tersebut maka kita akan lebih mudah menemukan konsep diri kita dan mengembangkan diri sesuai dengan potensi dan konsep diri yang kita miliki.
              Pada diri seseorang konsep diri berkaitan dengan pandangannya terhadap :
·         Keadaan fisik (seperti bentuk tubuh, tinggi badan, berat badan, kondisi sehat dan sakit).
·         Aspek psikis (meliputi pikiran, perasaan, dan sikap yang dimiliki)
·         Aspek sosial (meliputi bagaimana perasaan individu dalam lingkup perannya di lingkungan, penilaian terhadap peran, dan kemampuan sosialisasi)
·         Aspek moral (bagaimana memandang baik dan buruk, apa yang boleh dan tidak boleh, nilai-nilai agama, peraturan atau nilai-nilai masyarakat).
·         Mengenali kemampuan yang dimiliki, kelebihan dan kekurangan.
·         Tujuan dan rencana hidup, serta harapan-harapan pribadi.
·         Aspek seksual (meliputi identitas seksual, jenis kelamin, orientasi seksual)


3.      Penilaian
Dimensi ketiga konsep diri adalah penilaian kita terhadap diri kita sendiri. Penilaian diri sendiri merupakan pandangan kita tentang harga atau kewajaran kita sebagai pribadi.
Menurtu Calhoun dan Acocella (1990), setiap hari kita berperan sebagai penilai tentang diri kita sendiri, menilai apakah kita bertentangan:
a)      Pengharapan bagi diri kita sendiri (saya dapat menjadi apa),
b)      Standar yang kita tetapkan bagi diri kita sendiri (saya seharusnya menjadi apa).
Hasil dari penilaian tersebut membentuk apa yang disebut dengan rasa harga diri, yaitu seberapa besar kita meyukai diri sendiri. Orang yang hidup dengan standar dan harapan-harapan untuk dirinya sendiri yang menyukai siapa dirinya, apa yang sedang dikerjakannya, dan akan kemana dirinya akan memiliki rasa rasa harga diri yang tinggi  (high self-esteem). Sebaliknya, orang yang terlalu jauh dari satndar dan harapn-harapannya akan memiliki rasa harga diri yang rendah (low self esteem). Dengan demikian dapat dipahami bahwa penilaian akan membentuk penerimaan terhadap diri, serta harga diri seseorang
              Konsep diri mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap perilaku individu, yaitu individu akan bertingkah laku sesuai dengan konsep diri yang dimilikinya. Banyak kondisi dalam kehidupan remaja turut membentuk pola kepribadian melalui pengarhnya pada konsep diri seperti perubahan fisik, dan psikologi pada masa remaja. Beberapa faktor yang mempengaruhi konsep diri remaja, yaitu (Syarif, 2015 : 126) :
1.             Usia Kematangan. Remaja yang matang lebih awal, yang diperlakukan seperti orang yang hampir dewasa, mengembangkan konsep diri yang menyenangkan sehingga dapat menyesuaikan diri dengan baik.
2.             Penampilan Diri. Penampilan diri yang berbeda membuat remaja merasa rendah diri meskipun perbedaan yang menambah daya tarik fisik.
3.             Nama dan Julukan. Remaja peka dan merasa malu bila teman-teman sekelompoknya menilai namanya buruk  atau bila mereka memberi nama julukan yang bernada cemoohan.
4.             Hubungan Keluarga. Seorang remaja yang mempunyai hubungan yang erat dengan seseorang anggota keluarga akan mengidentifikasikan diri dengan orang lain dan ingin mengembangkan pola kepribadian yang sama.
5.             Teman-teman Sebaya. Teman sebaya mempengaruhi pola kepribadian remaja dalam dua cara, yaitu konsep diri remaja merupatan cerminan dari anggapan tentang konsep teman-teman  tentang dirinya, dan ia berada dalam tekanan untuk mengembangkan ciri-ciri kepribadian yang diakui olek kelompok.
6.             Kreativitas. Remaja yang semasa kanak-kanak di dorong agar kreatif dalam bermain dan dalam tugas-tugas akademis, mengembangkan perasaan individualitas dan identitas yang memberi memberi pengaruh yang baik pada konsep dirinya.
7.             Cita-cita. Bila remaja mempunyai cita-cita yang realistik tentang kemampuannya akan lebih banyak mengalami keberhasilan. Ini akan menimbulkan kepercayaan diri dan kepuasan diri yang lebih besar yang memberikan konsep diri yang lebih baik.

              Burns (dalam Nuryoto, 1993 : 54) menyebutkan bahwa secara garis besar ada lima faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri, yaitu :
1.             Citra fisik, merupakan evaluasi terhadap diri secara fisik.
2.             Bahasa, yaitu kemampuan melakukan konseptualisasi dan verbalisasi.
3.             Umpan balik dari lingkungan.
4.             Identifikasi dengan model dan peran jenis yang tepat.
5.             Pola asuh orang tua.
              Sedangkan Hurlock yang mengungkapkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri di antaranya adalah :
·         Fisik.
·         Pakaiannama dan nama panggilan.
·         Intelegensi
·         Tingkat aspirasi.
·         Emosi.
·         Budaya.
·         Sekolah dan perguruan tinggi.
·         Status sosial ekonomi, dan keluarga.
             
              Menurut Lerner dan Spanier (dalam Nuryoto, 1993 : 58), perkembangan seseorang selain ditentukan oleh kondisi dirinya, juga dikaitkan dengan kehidupan kelompok dalam lingkungan masyarakatnya pada setiap tahap perkembangan yang dilaluinya.
            Menurut Phomi Otari (2013 : 24) menyebutkan bahwa ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi konsep diri yaitu sebagai berikut.
1.             Usia. Adaya perbedaan usia menentukan perbedaan bagaimana konsep diri akan dibentuk. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan pengalaman yang diperoleh seseorang sehingga akan semakin mempengaruhi luasnya wawasan kognitif. Selanjutnya akan menentukan bagaimana persepsi seseorang terhadap pengalamannya dan akhirnya turut juga berpengaruh dalam mempersepsi dirinya.
2.             Peran seksual adalah pengetahuan individu sendiri apakah ia termasuk laki-laki ataukah perempuan. Peran seksual akan mempengaruhi perkembangan konsep diri individu. Itu berarti, peran seksual yang diterapkan pada seorang anak lambat-laun akan membentuk konsep diri anak.
Misalnya, seorang anak perempuan tunggal yang mempunyai beberapa saudara laki-laki, dapat dimungkinkan bahwa lambat laun akan berperilaku seperti layaknya laki-laki, bahkan konsep dirinya juga dibangun dalam kerangka konsep laki-laki.
3.             Keadaan fisik merupakan faktor yang dominan bagi seseorang, khususnya bagi seorang wanita. Ini disebabkan keadaan fisik memegang peranan penting dalam pembentukan konsep diri. Gambaran fisik dipahami melalui pengalaman langsung dan persepsinya mengenai tubuhnya sendiri. Adanya ketidaksempurnaan tubuh seseorang, akan mempengaruhi konsep diri secara tidak langsung. Dengan kata lain, proses evaluasi tentang tubuhnya didasarkan pada norma sosial dan umpan balik dari orang lain. Penilaian yang positif terhadap keadaan fisik seseorang baik dari diri sendiri maupun dari orang lain sangat membantu perkembangan konsep diri yang positif.
4.             Sikap-sikap orang di lingkungan sekitarnya. Roger (1961) menyatakan bahwa perkembangan konsep diri ditentukan oleh interaksi yang terbentuk antara individu dengan lingkungan sekitarnya. Ini berhubungan dengan feed back atau umpan balik yang diberikan oleh orang-orang disekitarnya terhadap perilaku individu tersebut. Umpan balik yang diberikan orang dilingkungannnya akan mempengaruhi konsep diri indvidu. Jika umpan balik yang diberikan orang-orang di lingkungannya menunjukkan penerimaan maka individu merasa diterima dan akan membantu perkembangan konsep diri ke arah positif. Tetapi jika umpan balik yang diberikan oleh orang-orang dlingkungannya menunjukkan penolakan, individu akan merasa terabaikan, terasing, merasa rendah diri, dan akan membentuk konsep diri yang negatif.
5.             Figur-figur bermakna. Banyak figur yang bermakna bagi individu yang pada intinya memberi pengaruh pada dirinya, baik melalui umpan balik ataupun melalui perilaku yang kemudian diinternalisasikannya. Figur-figur tersebut memberi pengaruh yang sangat terasa dalam pembentukan dan perkembangan konsep diri. Figur bermakna biasanya orang yang mempunyai arti khusus bagi individu meliputi orangtua, angota keluarga, guru, teman, pacar dan tokoh idola.


            a.      Abstract and idealistic
Pada masa remaja, anak-anak lebih mungkin membuat gambaran tentang diri mereka dengan kata-kata yang abstrak dan idealistik.
b.      Differentiated
Konsep diri remaja bisa menjadi semakin terdiferensiasi. Dibandingkan dengan anak yang lebih muda, remaja lebih mungkin untuk menggambarkan dirinya sesuai dengan konteks atau situasi yang semakin terdiferensiasi.
c.       Contradictions within the self
Setelah remaja mendeferensiasikan dirinya ke dalam sejumlah peran dan dalam konteks yang berbeda-beda, kaka muncullah kontradiksi antara diri-diri yang terdeferensiasi ini.
d.      The Fluctiating Self
Sifat yang kontradiktif dalam diri remaja pada gilirannya memunculkan fluktuasi diri dalam berbagai situasi dan lintas waktu yang tidak mengejutkan. Diri remaja akan terus memiliki ciri ketidakstabilan hingga masa di mana remaja berhasil membentuk teori mengenai dirinya yang lebih utuh, dan biasanya tidak terjadi hingga masa remaja akhir, bahkan hingga masa dewasa awal.
e.       Real and Ideal, True and False Selves
Munculnya kemampuan remaja untuk mengkonstruksikan diri ideal mereka di samping diri yang sebenarnya. Kemampuan utnuk menyadari adanya perbedaan antara diri yang nyata dengan diri yang ideal menunjukkan adanya peningkatan kemampuan kognitif dan adanya perbedaan yang terlalu jauh antara diri yang nyata dengan diri ideal menunjukkan ketidakmampuan remaja untuk menyesuaikan diri.
f.        Social Comparison
Remaja lebih sering menggunakan social comparison (perbandingan social) untuk mengevaluasi diri mereka sendiri. Namun, kesediaan remaja untuk mengevaluasi diri mereka cenderung menurun pada masa remaja karena menerut mereka perbandingan social itu tidaklah diinginkan Namun, kesediaan remaja untuk mengevaluasi diri mereka cenderung menurun pada masa remaja karena menerut mereka perbandingan social itu tidaklah diinginkan.
g.      Self-Conscious
Remaja lebih sadar akan dirinya dibandingkan dengan anak-anak dan lebih memikirkan tentang pemahaman diri mereka. 
h.      Self-protective
         Remaja juga memiliki mekanisme untuk melindungi dan mengembagkan dirinya. Dalam upaya melindungo dirinya, remaja cendrung menolak adanya karakteristik negatif dalam diri mereka.
i.        Unconscious
Konsep diri remaja melibatkan adanya pengenalan bahwa komponen yang tidak disadari termasuk dalam dirinya, sama seperti komponen yang disadari. Pengenalan seperti ini tidak muncul hingga masa remaja akhir. Artinya, remaja yang lebih tua, yakin akan adanya aspek-aspek tertentu dari pengalaman mental dari mereka yang berada di luar kesadaran atau control mereka dibandingkan dengan remaja yang lebih muda.
j.        Self-integration
Terutama pada masa remaja akhir, konsep diri menjadi lebih terintegrasi, dimana bagian yang berbeda-beda dari diri secara sistematik menjadi satu kesatuan. Remaja yang lebih tua, lebih mampu mendeteksi adanya ketidakkonsistenan.






              Konsep diri bukanlah sesuatu yang dibawa sejak lahir. Kita tidak dilahirkan dengan konsep diri tertentu. Bahkan ketika kita lahir, kita tidak memiliki konsep diri, tidak mengetahui tentang diri, dan tidak memiliki pengharapan bagi diri kita sendiri, serta tidak memiliki penilaian apapun terhadap diri sendiri. Dengan demikian konsep diri terbentuk melalui proses belajar yang berlangsung sejak masa pertumbuhan hingga dewasa.
              Seiring dengan pertumbuhan dan perubahan fisik, kognitif, dan kemampuan sosial, anak usia sekolah dasar juga mengalami perubahan pandangan terhadap dirinya sendiri. Pada awal-awal sekolah dasar, terjadi penurunan dalam konsep diri anak-anak. Sekolah dasar banyak memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk membandingkan dirinya dengan teman-temannya, sehingga penilaian dirinya secara gradual menjadi lebih realistis. Menurut Santrock (dalam Gufron, 2011 : 15) perubahan-perubahan dalam konsep diri anak selama tahun-tahun sekolah dasar dapat dilihat sekurang-kurangnya dari tiga karakteristik konsep diri, yaitu (1) karakteristik internal, (2) karakteristik aspek-aspek sosial, dan (3) karakteristik perbandingan sosial.
1.         Karakteristik Internal. Anak usia sekolah dasar lebih memahami dirinya melalui karakteristik internal daripada melalui karakteristik eksternal. Penelitian F. Abound dan S. Skeryy (1983), menemukan bahwasanya anak-anak kelas dua jauh lebih cenderung menyebutkan karakteristik psikologis (seperti preferensi atau sifat-sifat kepribadian) dalam pendefinisian diri mereka dan kurang cenderung menyebutkan karakteristik fisik (seperti warna mata atau pemilikan).
2.         Karakteristik Aspek-aspek Sosial.  Selama tahun-tahun sekolah dasar, aspek-aspek sosial dari pemahaman diri anak-anak juga meningkat. Dalam suatu investigasi, anak-anak sekolah dasar sering kali menjadikan kelompok-kelompok sosial sebagai acuan dalam deskripsi diri mereka.
3.         Karakteristik Perbandingan Sosial. Pemahaman diri anak-anak usia sekolah dasar juga mengacu pada perbandingan sosial (social comparison). Pada tahap ini, anak-anak cenderung membedakan diri mereka dari orang lain secara komparatif daripada secara absolut. Pergeseran perkembangan ini menyebabkan suatu kecenderungan yang meningkat untuk membentuk perbedaan-perbedaan seseorang dari orang lain sebagai seorang individu.
              Konsep diri mempunyai peranan penting dalam menetukan tingkah laku seseorang. Bagaimana seseorang memandang dirinya akan tercermin dari keseluruhan perilakunya. Menurut Felker (dalam Syarif, 2015 : 131), terdapat 3 peranan penting konsep diri dalam menentukan perilaku seseorang, yaitu :
1.      Self-Concept as maintainer of inner consistency (Konsep Diri Dalam Mempertahankan Keselarasan Batin). Individu senantiasa berusaha untuk mempertahankan keselarasan batinnya. Bila individu memiliki ide, perasaan, persepsi atau pikiran yang tidak seimbang atau saling bertentangan , amka akan terjasi situasi psikolog yang tidak menyenangkan untuk itu, individu harus mengubah perilaku atau memilih suatu sistem untuk mempertahankan kesesuaian dirinya dengan lingkungannya.
2.      Self-Concept as set of experience (Konsep Diri Dalam Menentukan Individu Memberikan Penafsiran Atas Pengalamannya). Seluruh sikap dan pandangan individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi individu tersebut dalam menafsirkan pengalamannya.  Sebuah kejadian akan ditafsirkan secara berbeda antara individu yang satu dengan individu yang lainnya, karena masing-masing individu mempunyai sikap dan pandangan yang berbeda terhadap diri mereka.
3.      Self-Concept as set of expectations (Konsep Diri Berperan Sebagai Penentu Pengharapan Individu). Pengharapan ini merupakan inti dari konsep diri.
              Selanjutnya, Pudjijogyanti (dalam Joyce, 2004 : 130) menambahkan bahwa konsep diri mempunyai peran penting dalam menentukan perilaku individu. Bagaimana individu memandang dirinya akan tampak dari keseluruhan perilaku dengan kelompok. Apabila individu berpendapat bahwa kelompok selalu benar, maka individu tersebut akan mengikuti apapun yang dilakukan oleh kelompoknya tanpa mempedulikan pendapatnya sendiri.
              Konsep diri dan prestari belajar mempunyai hubungan yang erat. Nylor (dalam Syarif, 2015 : 132) mengemukakan bahwa banyak penelitian yang membutikan hubungan positif yang kuat antara konsep diri dengan prestasi belajar disekolah. Siswa yang memiliki konsep diri positif, memperlihatkan prestasi belajar yang baik disekolah, atau siswa yang berprestasi tinggi disekolah memiliki penialaian diri yang tinggi serta menujukkan hubungan antar pribadi yang positif pula. Mereka menentukan target prestasi belajar yang realistis dan mengarahkan kecemasan akademis dengan belajar keras dan tekun, serta aktivitas-aktivitas mereka selalu diarahkan pada kegiatan akademis. Mereka juga memperlihatkan kemandirian dalam belajar, sehingga tidak tergantung pada guru semata.
              Konsep diri merupakan seperangkat instrument pengendali mental dan karenanya mempengaruhi kemampuan berpikir seseorang. Gunawan (dalam Phomi, 2013 : 30)  menyebutkan bahwa seseorang yang mempunyai konsep diri positif akan menjadi invidu yang mampu memandang dirinya secara positif, berani mencoba dan mengambil resiko, selalu optimis, percaya diri, dan antusias menetapkan arah dan tujuan hidup.
              Untuk mengetahui hubungan antara konsep diri dan prestasi belajar, Fink (dalam Syarif, 2015 : 133) melakukan penelitian dengan melibatkan sejumlah siswa laki-laki dan perempuan yang dipasangkan berdasarkan tingkatan inteligensi mereka. Disamping itu mereka digolongkan berdasarkan prestasi belajar mereka, yaitu kelompok berprestasi lebih (overachievers) dan kelompok berprestasi kurang (underachiever) : Siswa yang overachievers menunjukkan konsep diri yang lebih positif, dan hubungan yang erat antara konsep diri dan prestasi belajar terlihat jelas pada siswa laki-laki. Sedangkan penelitian Walsh, uga menunjukkan bahwa siswa yang tergolong underachiever mempunyai konsep diri yang negative, serta memperlihatkan karakteristik kepribadian : 1) Mempunyai perasaan dikritik, ditolak dan diisolir; 2) Melakukan mekanisme pertahanan diri dengan cara menghindar dan bahkan bersikap menentang; 3) Tidak mampu megekspresikan perasaan perilakunya.

F.    Implikasi Perkembangan Konsep Diri Peserta Didik terhadap Pendidikan
1.      Membuat siswa merasa mendapat dukungan dari guru
Dukungan guru dapat ditunjukkan dalam bentuk dukungan emosional (emotional support), seperti ungkapan empati, kepedulian, perhatian, dan umpan balik. Dapat juga dengan dukungan penghargaan (esteem support), seperti melalui ungkapan hormat (penghargaan) positif terhadap siswa, dorongan untuk maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan siswa dan perbandingan positif antara satu siswa dengan siswa lain
2.      Membuat siswa merasa bertanggung jawab
Memberi kesempatan kepada siswa untuk membuat keputusan sendiri atas perilakunya dapat diartikan sebagai upaya guru untuk memberi tanggung jawab kepada siswa Memberi kesempatan kepada siswa untuk membuat keputusan sendiri atas perilakunya dapat diartikan sebagai upaya guru untuk memberi tanggung jawab kepada siswa
3.      Membuat siswa merasa mampu
Dapat dilakukan denga cara menunjukkan sikap dan pandangan yang positif terhadap kemampuan yang dimiliki siswa. Guru harus berpandangan bahwa semua siswa pada dasarnya memiliki kemampuan, hanya saja mungkin belum dikembangkan
4.      Mengarahkan siswa untuk mencapai tujuan yang realistik
Penetapan tujuan yang realistis ini dapat dilakukan dengan mengacu pada pencapaian di masa lampau, sehingga pencapaina prestasi sudah dapat diramalkan dan siswa akan terbantu untuk bersikap positif terhadap kemampuan dirinya sendiri
5.      Membantu siswa menilai diri mereka secara realisitik
Guru perlu membantu siswa menilai prestasi siswa secara realistis, yang membantu rasa percaya akan kemampuan mereka dalam menghadapi tugas-tugas sekolah dan meningkatkan prestasi belajar di kemudian hari.
6.      Mendorong siswa agar bangga dengan dirinya secara realistik
Upaya yang dilakukan untuk mengembangkan konsep diri peserta didik adalah dengan memberikan dorongan kepada siswa agar bangga atas prestasi yang dicapai. Ini merupakan salah satu kunci untul menjadi lebih positif dalam memandang kemampuan yang dimiliki.




PENUTUP
              Konsep diri adalah bagaimana seeorang melihat dirinya yang mencakup keyakinan, pandangan dan penilaian seseorang terhadap sirinya sendiri. Konsep diri seseorang dibentuk oleh lingkungan, terutama lingkungan keluarga dimana demana seorang anak dibesarkan. Pola asuh orang tua terhadap anak sangan menetukan konsep diri anak. Lingkungan yang juga sangat berpengaruh terhadap konsep diri anak adalah lingkungan sekolah. Guru sangat berperan dalam membentuk konsep diri anak.
              Terdapat 3 dimensi konsep diri yaitu dimensi gambaran diri (self image), dimensi penilaian diri (self evalution), dan dimensi cita-cita diri (self ideal). Sedangkan faktor yang mempengaruhi konsep diri individu adalah usia kematangan, penampilan diri, nama dan ulukan, hubungan keluarga, teman sebaya,  dan kreatifitas.
              Konsep diri memegang peranan penting dalam menentukan perilaku seseorang. Bagaimana seseorang memandang dirinya akan tercermin dalam keseluruhan perilakunya.  Konsep diri juga mempunyai hubungan yang erat dengan prestasi belajar. Disekolah anak yang mempunyai konsep diri yang baik biasanya akan memperoleh prestasi belajar yang baik, dan sebaliknya anak yang mempunyai konsep diri yang tidak baik biasanya akan memperoleh prestasi belajar yang baik.

              Agar konsep diri berkembang dengan baik maka kita harus memperhatikan hal-hal dan faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan konsep diri. Dalam mengembangkan konsep diri remaja, kita sebagai penggerak harus mempunyai beberapa cara agar perkembangan konsep diri remaja itu berjalan dengan baik dan sempurna. Selain itu lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat juga sangat membantu dalam pengembangan konsep diri remaja.


Syarif, Kemali. 2015. Perkembangan Peserta Didik. Medan : UNIMED PERSS
Agustiani, H. 2006. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT. Refika Aditama
Rini, Deswita. 2004. Psikology Remaja. Jakarta : Erlangga
Gufron, M. 2011. Teori-Teori psikologi. Yogyakarta: Ar-ruzz Media
Ramlan, Joyce. 2004. Peran Remaja. Jakarta : Bumi Aksara
Allen, Nuryoto. 1993. Perkembangan Peserta Didik. Bandung : Rosda Karya
Otari, Phomi. 2013. Pekembangogan Peserta Didik. Yogyakarta : CV ANDI OFFSET

Tidak ada komentar:

Posting Komentar