Selasa, 21 November 2017

Makalah Makroekonomi Tentang Pengangguran, Inflasi, Dan kebijakan Pemerintahan



MAKALAH
            PENGANGGURAN, INFLASI DAN KEBIJAKAN PEMERINTAHAN
Aulia Dawam, S.E, M.A

Di Susun Oleh :
Kelompok III EKONOMI II A
·       Halimatus Sakdiyah
·       Homsiah
·       Hardiyanto Afandi
·       Endang Maymuna
·       Adi Imam
·       Abd. Ghaffar
STKIP PGRI BANGKALAN
TAHUN AJARAN 2016/2017
                                               


DAFTAR ISI


DAFTAR ISI.............................................................................................................. 2
KATA PENGANTAR................................................................................................ 3

BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.................................................................................................... 4
B.     Rumusan Masalah.............................................................................................. 4
C.    Tujuan.................................................................................................................. 4

BAB II PEMBAHASAN
1.      PENGANGGURAN............................................................................................ 5
2.    MASALAH PENGANGGURAN....................................................................... 6         
3.    BEBERAPA TUJUAN KEBIJAKAN PEMERINTAH ..................................... 9
4.    MASALAH INFLASI................................................................................         11
5.    MASALAH PENGANGGURAN DAN KEBIJAKAN FISKAL............... ........ 18
6.   KEBIJAKAN MONETER DAN MASALAH PENGANGGURAN........... ........ 21       
7.   KEBIJAKAN FISKAL UNTUK MENGATASI INFLASI......................... ........ 22
8.   KEBIJAKAN MONETER UNTUK MENGATASI INFLASI............................. 24
9.   KEBIJAKAN SEGI PENAWARAN..........................................................         26
KASUS...................................................................................................................... 28

BAB III PENUTUP
a. Kesimpulan........................................................................................... ........ 29
b. Saran............................................................................................................... 29

DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 30









KATA PENGANTAR



Assalamualaikum Wr.Wb

Segala puji dan syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT, karenaberkat rahmat dan karunia-Nya, kami telah berhasil menyelesaikan makalah ini,yang merupakan salah satu tugas dalam mata kuliah Pengantar Ilmu Ekonomi dijurusan Administrasi Negara.Kami menyadari bahwa dalam menyelesaikan makalah yang berjudul“Pengangguran, Inflasi dan Kebijakan Pemerintah” ini tidak lepas dari kesalahandan kekurangan. Sehubungan dengan hal tersebut, maka kami mengharapkankritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca guna kesempurnaanmakalah ini. Atas selesainya penyusunan tugas ini, kami sampaikan rasa terima kasihyang setulus- tulusnya kepada semua pihak, yang telah memberikan bantuan atau dorongan, baik moril maupun materil.

Semoga semua amal yang telah diberikan kepada kami mendapatkanimbalan yang setimpal dari Allah SWT. Akhir kata kami berharap, semogamakalah ini bermanfaat bagi pihak- pihak yang membutuhkannya.

Wassalamualaikum Wr.Wb 




Bangkalan, April 2017












BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Sebuah Negara tidak akan pernah bisa lepas dari berbagai macam permasalahan yang berhubungan dengan warga negaranya. Terlebih pada negara – negara yang memiliki jumlah penduduk yang tinggi seperti Indonesia. Masalah ketenaga kerjaan, pengangguran, kenaikan harga (inflasi) dan kemiskinan serta kebijakan pemerintah.
Tenaga kerja adalah faktor penting dalam proses produksi. Akan tetapi dalam memandang definisi tenaga kerja sendiri, terdapat dua pandangan (kubu) yang berbeda dan saling menegasikan antara keduanya. Pihak pengusaha di satu sisi dan pekerja disisi lainnya. Hal yang menjadi perdebatan salah satunya adalah tentang upah atau yang sering diperdebatkan yakni mengenai upah minimum. Perbedaan pendapat antara dua kubu tersebut tentang upah minimum bukanlah suatu isu baru. Perbedaan pendapat ini dapat dilihat dari perselisihan antara kelompok serikat pekerja yang menghendaki kenaikan upah minimum yang signifikan, sementara kelompok pengusaha melihat bahwa tuntutan ini bertentangan dan tidak kompatibel dengan upaya pemerintah mendorong pemulihan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Krisis ekonomi yang telah menjatuhkan Indonesia dari tingkat negara berpendapatan menengah menjadi negara ke pendapatan rendah dengan dampak pada meningkatnya jumlah penduduk miskin dan pengangguran.

B.     Rumusan Masalah
1.      Apakah keterkaitan antara pengangguran dan inflasi ?
2.      Bagaimana kebijakan pemerintahan untuk mengatasi pengangguran dan inflasi ?

C.     Tujuan
1.      Untuk mengetahui konsep inflasi dan pengangguran.
2.      Untuk mengetahui bagaimana keterkaitan inflasi dan pengangguran.
3.      Untuk mengetahui apa kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi inflasi dan pengangguran.


BAB II
PEMBAHASAN

1. PENGANGGURAN
A. Pengertian Pengangguran
Pengangguran adalah orang yang masuk dalam kategori angkatan kerja (penduduk yang berumur 15-59 tahun,ada beberapa negara lain memakai kategori 15-64 tahun) yang sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya. Jumlah tenaga kerja atau angkatan kerja tidak boleh disamakan dengan jumlah penduduk. Mengapa demikian??? Sebagian dari penduduk tidak dapat digolongkan sebagai angkatan kerja karena terlalu muda atau terlalu tua untuk dapat bekerja secara efektif. Golongan penduduk ini tidak termasuk ke dalam angkatan kerja.  Tetapi tidak semua penduduk yang berada dalam lingkungan umur 15-59 tahun atau 15-64 tahun dapat dipandang sebagai Angkatan Kerja. Apabila mereka tidak bekerja dan tidak mencoba mencari pekerjaan,walaupun umur mereka seperti di atas, maka mereka tidak termasuk golongan Angkatan Kerja. Golongan masyarakat seperti itu adalah :  pelajar sekolah menengah(sebelum tingkat universitas), mahasiswa dan ibu rumah tangga. Dengan demikian, jumlah tenaga kerja atau angkatan kerja pada suatu waktu tertentu adalah banyaknya jumlah penduduk yang berada dalam lingkungan umur di atas yang bekerja atau sedang mencari pekerjaan.
B. Rumus Menghitung Tingkat Pengangguran
Perbandingan diantara jumlah angkatan kerja yang menganggur dengan angkatan kerja keseluruhannya disebut Tingkat Pengangguran. Untuk mengukur tingkat pengangguran pada suatu wilayah bisa didapat dari  persentase membagi jumlah pengangguran dengan jumlah angkaran kerja.                                             

Tingkat Pengangguran = Jumlah pengangguran/ Jumlah Angkatan Kerja x 100%
 2. MASALAH PENGANGGURAN
1.  Jenis- Jenis Pengangguran
a. Menurut faktor penyebabnya, terbagi atas :
1. Pengangguran Friksional / Pengangguran Normal
Pada setiap masa sebagian kecil dari angkatan kerja adalah dalam keadaan menganggur atas kemauan sendiri. Mereka berhenti dari tempat pekerjaan yang lama dan mencari pekerjaan lain. Maksud mereka berhenti dari pekerjaan tersebut adalah untuk mencari pekerjaan yang lebih baik, memperoleh pendapatan yang lebih tinggi dan memperoleh jaminan sosialatau fasilitas lainnya yang lebih baik. Pengangguran yang ingin memperoleh pekerjaan yang lebih baik tersebut dinamakan Pengangguran Friksional.
2. Pengangguran Struktural / Structural Unemployment
Kemajuan teknologi di kegiatan-kegiatan ekonomi lain, perubahan dalam cita rasa masyarakat dan masuknya pesaing baru yang lebih efisien di pasar adalah beberapa faktor yang dapat mengakibatkan kemunduran dalam sesuatu kegiatan ekonomi. Apabila hal ini terjadi, terpaksalah para pekerja diberhentikan oleh instansi yang mempekerjakan mereka. Pengangguran yang demikian dinamakan Pengangguran Struktural.
3. Pengangguran Teknologi
Pengangguran dapat pula disebabkan oleh adanya pergantian tenaga manusia oleh mesin-mesin atau bahan-bahan kimia. Misalnya : racun lalang dan rumput, telah mengurangi penggunaan tenaga kerja untuk membersihkan sawah, ladang dan perkebunan. Begitu juga, mesin telah mengurangi keperluan tenaga kerja untuk mengorek tanah, memotong rumput, membersihkan hutan untuk ditanami, dsb. Pengangguran yang ditimbulkan oleh berlakunya pergantian tenaga manusia dengan mesin-mesin yang lebih modern disebut Pengangguran Teknologi


4. Pengangguran Siklikal
Pengangguran siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran kerja.
2. Menurut ciri-cirinya, terdiri atas :
a. Pengangguran terbuka
Pengangguran terbuka adalah pengangguran yang benar-benar terlihat  menganggurnya(nyata dilihat), tidak ada pekerjaan sama sekali.\
            Pengangguran ini tercipta sebagai akibat pertambahan lowongan pekerjaan yang lebih rendah dari pertambahan tenaga kerja. Sebagai akibatnya dalam perekonomian semakin banyak jumlah tenaga kerja yang tidak dapat memperoleh pekerjaan. Efek dari keadaan ini di dalam suatu jangka masa yang cukup panjang mereka tidak melakukan sesuatu pekerjaan. Jadi mereka menganggur secara nyata dan sepenuh waktu, dan oleh karenanya dinamakan pengangguran terbuka.
Indikator ini dapat dihitung dengan cara membandingkan antara jumlah  penduduk berusia 15 tahun atau lebih yang sedang mencari pekerjaan, dengan  jumlah penduduk yang termasuk dalam angkatan kerja.

Tingkat Penganguran = ∑ orang yang mencari pekerjaan x 100%
∑ angkatan kerja
               
Misalkan, dari data Sensus Penduduk 2000 diketahui jumlah orang yang mencari  pekerjaan sebanyak 4.904.652 orang dan jumlah angkatan kerja sebanyak 97.433.125 orang (lihat Tabel 1) . Sehingga tingkat pengangguran terbuka di Indonesia pada tahun 2000 adalah:
 Tingkat Pengangguran Terbuka =      4. 904.652    x  100%  = 5%
                                                            97.433.125

Besarnya angka pengangguran terbuka mempunyai implikasi sosial yang luas karena mereka yang tidak bekerja tidak mempunyai pendapatan. Semakin tinggi angka pengangguran terbuka maka semakin besar potensi kerawanan sosial yang ditimbulkannya contohnya kriminalitas. Sebaliknya semakin rendah angka pengangguran terbuka maka semakin stabil kondisi sosial dalam masyarakat. Sangatlah tepat jika pemerintah seringkali menjadikan indikator ini sebagai tolok ukur keberhasilan

b. Pengangguran tersembunyi
Apabila dalam suatu kegiatan ekonomi jumlah tenaga kerja sangat berlebihan, sehingga berada dalam suatu keadaan di mana sebagian tenaga kerjanya dipindahkan ke sektor lain tetapi produksi dalam kegiatan itu tidak berkurang, maka dalam kegiatan itu telah berlaku suatu jenis pengangguran yang dinamakan Pengangguran Tersembunyi atau Pengangguran Tak Kentara.
c.    Pengangguran musiman
Pengangguran yang terjadi pada masa-masa tertentu di dalam suatu tahun. Biasanya pengangguran seperti itu berlaku pada masa-masa dimana kegiatan bercocok tanam sedang menurun kesibukannya. Di dalam masa itu, para petani tidak melakukan pekerjaan sama sekali, berarti mereka dalam keadaan menganggur. Tetapi pengangguran itu adalah untuk sementara saja, dan berlaku dalam waktu-waktu tertentu. Oleh sebab itu, dinamakan Pengangguran Musiman.

d. Setengah pengangguran
Setengah pengangguran, terdiri atas pengangguran sukarela (voluntary unemployment) dan dukalara (involuntary unemployment). Pengangguran suka rela adalah pengangguran yang menganggur untuk sementara waktu karena ingin mencari pekerjaan lain yang lebih baik. Sedangkan pengangguran duka lara adalah pengengguran yang menganggur karena sudah berusaha mencari pekerjaan namun belum berhasil mendapatkan kerja.
·       Beberapa hal yang menyebabkan pengangguran antara lain:
1.               Penduduk yang relatif banyak
2.               Pendidikan dan keterampilan yang rendah
3.               Angkatan kerja tidak dapat memenuhi persyaratan yang diminta dunia kerja

4.               Teknologi yang semakin modern
5.               Pengusaha yang selalu mengejar keuntungan dengan cara melakukan penghematan-penghematan.
6.               Penerapan rasionalisasi
7.               Adanya lapangan kerja yang dengan dipengaruhi musim
8.               Ketidakstabilan perekonomian, politik dan keamanan suatu negara
·       Akibat-akibat buruk yang ditimbulkan oleh pengangguran.
1.               Peningkatan tindakan kriminalitas
2.               Tingkat kesehatan menurun
3.               Terjadinya kekacauan sosial dan politik (demonstrasi dan perebutan kekuasaan)
4.               Hilangnnya kepercayaan diri dan menurunnya kemampuan kerja
5.               Perselisihan dalam keluarga
Suparmoko, M. 1991. Pengantar Ekonomika Makro. BPFE. Yogyakarta
Sukirno,Sadono.1985. Pengantar Teori Makroekonomi.Bina Grafika. Jakarta
3.   BEBERAPA TUJUAN KEBIJAKAN PEMERINTAH
a.   Tujuan Bersifat Ekonomi           
                        Tujuan untuk mengatasi pengangguran didasarkan kepada pertimbangan – pertimbangan yang bersifat ekonomi. Dalam hal ini ada tiga hal pertimbangan utama : untuk menyediakan lowongan pekerjaan baru, untuk meningkatkan taraf kemakmuran masyarakat dan memperbaiki kesamarataan pembagian pendapatan.

b.  Menyediakan Lowongan Pekerjaan      
                        Dalam jangka pendek pengangguran dapat menjadi bertambah serius, yaitu ketika berlaku kemunduran atau pertumbuhan ekonomi yang lambat. Dalam masa seperti itu kesempatan kerja bertambah dengan lambat dan pengangguran meningkat. Menghadapi keadaan yang seperti ini usaha – usaha pemerintah untuk mengatasi pengangguran perlu ditingkatkan
c.   Meningkatkan Taraf Kemakmuran Masyarakat
           
                        Kenaikan kesempatan kerja dan penganguran sangat berhubungan dengan pendapatan nasional dan tingkat kemakmuran masyarakat. Kenaikan kesempatan kerja menambah produksi nasional dan pendapatan nasional. Ukuran kasar dari kemakmuran masyarakat adalah pendapatan per kapita yang diperoleh dengan cara membagikan pendapatan nasional dengan jumlah penduduk. Melalui perubahan ini kemakmuran masyarakat akan bertambah.

d.  Memperbaiki Pembagian Pendapatan   
                        Pekerja yang menganggur tidak memperoleh pendapatan. Maka semakin besar pengangguran, semakin banyak golongan tenaga kerja yang tidak mempunyai pendapatan. sebaliknya, pada kesempatan kerja yang tinggi tuntutan kenaikan upah akan semakin mudah diperoleh. Dari kecenderungan ini dapat disimpulakn bahwa usaha menaikkan kesempatan kerja dapat juga digunakan sebagai alat untuk memperbaiki pembagian pendapatan dalam masyarakat.

e.   Tujuan Bersifat Sosial dan Politik         
                       
Tanpa kestabilan sosial dan politik, usaha – usaha untuk mengatasi masalah ekonomi tidak dapat di capai dengan mudah. Berikut ini masalah sosial dan politik utama yang ingin diatasi melalui kebijakan pemerintah mengurangi pengangguran.

f.    Meningkatkan  Kemakmuran Keluarga dan Kestabilan Keluarga     
                        Pengangguran mengurangi kemampuan keluarga untuk membiayai pendidikan anak – anaknya. “Drop-out” di sekolah – sekolah angat berhubungan erat dengan masalah kemiskinan. Efek psikologi ke atas rumah tangga seperti merasa rendah diri, kehilangan kepercayaan diri dan perselisihan dalam keluarga, merupakan masalah lain yang ditimbulakn oleh pengangguran.

g.  Menghindari Masalah Kejahatan           
                        Semakin tinggi pengangguran, semakin tinggi kasus kejahatan. Dengan demikian usaha mengatasi pangangguran secara tak langsung menyebabkan pengurangan dalam kejahatan.

h.  Mewujudkan Kestabilan Politik 
                        Pengangguran merupakan salah satu sumber atau penyebab dari ketidakstabilan politik. Pengangguran menyebabkan masyarakat tidak merasa puas dengan pihak pemerintah. Mereka merasa pemerintah tidak melakukan tindakan yang cukup untuk masyarakat. Langkah pemerintah untuk menghindari masalah ini perlu dilakukan.

4.   MASALAH INFLASI (KENAIKAN HARGA)
1.   Pengertian Inflasi
                        Inflasi adalah proses kenaikan harga-harga umum secara terus-menerus. Tujuan jangka panjang pemerintah adalah menjaga agar tingkat inflasi yang berlaku berada pada tingkat yang sangat rendah. Tingkat inflasi nol persen bukanlah tujuan utama kebijakan pemerintah karena itusukar untuk dicapai. Yang paling penting untuk diusahakan adalah menjaga agar tingkat inflasi tetap rendah. Adakalanya tingkat inflasi meningkat dengan tiba-tiba atau wujud sebagai akibat suatu peristiwa tertentu yang berlaku di luar ekspektasi pemerintah, misalnya efek dari pengurangan nilai uang (depresiasi nilai uang) yang sangat besar atau ketidakstabilan politik. Menghadapi masalah inflasi yang bertambah cepat ini pemerintah akan menyusun langkah-langkah yang bertujuan agar kestabilan harga-harga dapat diwujudkan kembali.
Berdasarkan kepada sumber atau penyebab kenaikan harga-harga yang berlaku, inflasi dibedakan kepada tiga bentuk berikut:
Inflasi berdasarkan sumber atau penyebab :
a.   Inflasi Tarikan Permintaan
Inflasi ini biasanya terjadi pada masa perekonomian berkembang dengan pesat. Kesempatan kerja yang tinggi menciptakan tingkat pendapatan yang tinggi dan selanjutnya menimbulkan pengeluaran yang melebihi kemampuan ekonomi pengeluaran barang dan jasa.
Gambar 10.1 
Inflasi Tarikan Permintaan
Description: Image result for gambar inflasi tarikan permintaan
Kurva AS adalah penawaran agregat dalam ekonomi, sedangkan AD1, AD2 dan AD3 adalah permintaan agregat. Misalkan pada mulanya permintaan agregat adalah AD1, maka pendapatan nasional adalah Y1 dan tingkat harga adalah P1. Perekonomian yang berkembang pesat mendorong kepada kenaikan permintaan agregat. Yaitu menjadi AD2. Akibatnya pendapatan nasional mencapai tingkat kesempatan kerja penuh, yaitu YF dan tingkat harga naik dari P1 ke PF. Ini berarti inflasi telah wujud. Apabila masyarakat masih tetap menambah pengeluarannya maka permintaan agregat menjadi AD3. Untuk memenuhi permintaan yang semakin bertambah tersebut, perusahaan-perusahaan akan menambah produksinyadan menyebabkan pendapatan nasional riil meningkat dari YF menjadi Y2. Kenaikan produksi nasional melebihi kesempatan kerja penuh akan menyebabkan kenaikan harga yang lebih cepat, yaitu dari P1 ke P2.

b.  Inflasi Desakan biaya
Inflasi desakan biaya adalah masalah kenaikan harga – harga dalam perekonomian yang disebabkan oleh kenaikan biaya produksi sebagai akibat kenaikan harga bahan mentah atau kenaikan upah.  Pertambahan biaya produksi akan mendorong perusahaan – perusahaan menaikkan harga, walaupun mereka harus mengambil resiko akan menghadapi pengurangan dalam permintaan barang-barang yang diproduksinya.
(Sadono Sukirno, 2004; 334)
Description: Image result for gambar kurva desakan biaya


Kurva AS1, AS2 dan AS3 merupakan kurva penawaran agregat, sedangkan kurva AD adlah permintaan agregat. Andaikan pada mulanya kurva penawaran agregat adalah AS1. Dengan demikian pada mulanya keseimbangan ekonomi negara tercapai pada pendapatan nasional Y1, yaitu pendapatan nasional pada kesempatan kerja penuh, dan tingkat harga adalah pada P1. Pada tingkat kesempatan kerja yang tinggi perusahaan-perusahaan sangat memerlukan tenaga kerja. Keadaan ini cenderung mengakibatkan kenaikan upah dan gaji karena :

1. Perusahaan akan berusaha mencegah perpindahan tenaga kerja dengan menaikkan upah dan gaji.
2. Usaha untuk memperoleh pekerja tambahan hanya akan berhasil apabila perusahaan menawarkan upah dan gaji yang lebih tinggi.

Kenaikan upah akan menaikan biaya, dan kenaikan biaya akan memindahkan fungsi penawaran agregat ke atas, yaitu dari AS1 ke AS2. Sebagai akibatnya tingkat harga naik dari P1 menjadi P2. Harga barang yang tinggi ini mendorong para pekerja menuntut kenaikan upah lagi, maka biaya produksi akan semakin tinggi. Pada akhirnya ini akan menyebabkan kurva penawaran agregat bergeser dari AS2 menjadi AS3. Perpindahan ini menaikan harga dari P2 ke P3. Dalam proses kenaikan harga yang disebabkan oleh kenaikan upah dan kenaikan penawaran agregat ini pendapatan nasional riil terus mengalami penurunan, yaitu dari YF atau Y1 menjadi Y2 dan Y3. Berarti akibat dari kenaikan upah tersebut kegiatan ekonomi akan menurun dibawah tingkat kesempatan kerja penuh.

Dalam kurva diatas diandaikan kenaikan upah tidak menyebabkan kenaikan dalam permintaan agregat. Dalam prakteknya, kenaikan upah mungkin juga diikuti oleh kenaikan dalam permintaan agregat riil. Apabila keadaan ini berlaku, kenaikan harga akan menjadi semakin cepat dan kesempatan kerja tidak mengalami penurunan. Andaikan setelah AS1 menjadi AS2, permintaan agregat AD berubah menjadi AD1. Akibar dari perubahan ini kesempatan kerja penuh tertap terpakai, tetapi tingkat harga lebih tinggi dari P2. Apabila proses kenaikan upah baru berlaku, penawaran agregat akan bergerak dari AS2 ke AS3. Sekiranya ini diikuti pula oleh kenaikan permintaan agregat menjadi AD2 maka tingkat kesempatan kerja penuh masih tetap tercapai, tetapi harga-harga akan mencapai tingkat yang lebih tinggi dari P3 yaitu P4.

c. Inflasi Diimpor
Inflasi yang diimpor atau Imported Inflation merupakan kenaikan harga yang sangat dipengaruhi oleh tingkat harga-harga yang terjadi pada barang-barang yang diimpor, sehingga kenaikan harga barang-barang tersebut akan sangat berdampak terhadap kenaikan harga barang-barang di dalam negeri. Salah satu contoh yang pernah terjadi yaitu kenaikan harga minyak dunia pada tahun 1970an yang mengakibatkan kenaikan biaya produksi, dan kenaikan biaya produksi mengakibatkan kenaikan harga-harga. Kenaikan harga minyak yang tinggi tersebut (dari US$ 3.00 pada tahun 1973 menjadi US$ 12.00 pada tahun 1974) menyebabkan masalah stagflasi.

“Stagflasi yaitu menggambarkan keadaan dimana kegiatan ekonomi semakin menurun, pengangguran semakin tinggi dan pada waktu yang sama proses kenaikan harga-harga semakin bertambah cepat”.
(Sadono Sukirno, 2004;336)

Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiy5vuPl1Ud5g9CSs130dQXqYFCMcWTuNBZ5j7MdO_YrA39h7wVdkgZabCl29kBtAOzsw7C0mxO4VBo03p0dnaaSPZGEhy3IgDVHHEjH846cM3qymQ5YjYmLEyAOtOUXGqtTM2so7Mmywg/s1600/New+Picture+%282%29.png
Permintaan agregat dalam ekonomi adalah AD sedangkan pada mulanya penawaran agregat ada AS1. Dengan demikian pada mulanya pendapatan nasional adalah Y1. Gambar diatas menunjukkan pendapatan ini dicapai di bawah pendapatan pada kesempatan kerja penuh (YF) maka jumlah pengangguran adalah tinggi. Kenaikan harga barang impor yang penting artinya di berbagai industri mengakibatkan biaya produksi naik, dan ini seterusnya akan mengakibatkan perpindahan kurva penawaran agregat dari AS1 menjadi AS2. Pendapatan menurun dari Y1 kepada Y2 sedangkan tingkat harga naik dari P1 menjadi P2. Ini berarti secara serentak perekonomian menghadapi masalah inflasi dan pengangguran yang lebih buruk. Ahli-ahli ekonomi menamakan ini dnegan sebutan Stagflasi, yaitu merupakan akronim dari Stagnasi dan Inflasi.

Apabila suatu perusahaan masih mengalami permintaan yang bertambah, maka perusahaan akan berusaha untuk menaikkan produksinya denganc ara memberikan upah yang lebih tinggi kepada pekerjanya dan mencari pekerja yang baru, dengan tawaran pembayaran yang lebih tinggi ini mengakibatkan biaya produksi meningkat yang akhirnya menyebabkan kenaikan harga-harga berbagai barang-barang.

3.   Inflasi Berdasarkan Tingkat Kelajuan Kenaikan Harga-harga yang Berlaku
a.   Inflasi Merayap  
Inflasi Merayap adalah proses kenaikan harga-harga yang lambat jalannya. Yang digolongkan kepada inflasi ini adalah kenaikan harga-harga yang tingkatnya tidak melebihi dua atau tiga persen setahun. Malaysia dan Singapura adalah dua dari negara-negara yang tingkat inflasinya dapat digolongkan sebagai inflasi merayap.

b.  Inflasi Sedang      
Di negara-negara berkembang adakalanya tingkat inflasi tidak mudah dikendalikan. Negara-negara tersebut tidak menghadapi masalah hiperinflasi, akan tetapi juga tidak mampu menurunkan inflasi pada tingkat yang sangat rendah. Secara rata-rata di sebagian negara tingkat inflasi mencapai di antara 5 hingga 10 persen. Inflasi dengan tingkat yang seperti itu digolongkan sebagai inflasi Sedang atau moderate inflation.

c.   Hiperinflasi          
Hiperinflasi adalah proses kenaikan harga-harga yang sangat cepat, yang menyebabkan tingkat harga menjadi dua atau beberapa kali lipat dalam masa yang singkat. Di Indonseia, sebagai contoh, pada tahun 1965 tingkat inflasi adalah 500 persen dan pada tahun 1966 ia telah mencapai 650 persen. Ini berarti tingkat harga-harga naik 5 kali lipat pada tahun 1965 dan 6,5 kali lipat dalam tahun 1966.
            Inflasi umumnya memberikan dampak yang kurang menguntungkan dalam perekonomian, akan tetapi sebagaimana dalam salah satu prinsip ekonomi bahwa dalam jangka pendek ada trade off antara inflasi dan pengangguran menunjukkan bahwa inflasi dapat menurunkan tingkat pengangguran, atau inflasi dapat dijadikan salah satu cara untuk menyeimbangkan perekonomian Negara, dan lainsebagainya. Secara khusus dapat diketahui beberapa dampak baik negatif maupun positif dari inflasi adalah sebagai berikut :

a. Dampak Negative
1. Bila harga secara umum naik terus-menerus maka masyarakat akan panik, sehingga  perekonomian tidak berjalan normal, karena disatu sisi ada masyarakat yang berlebihan uang memborong sementara yang kekurangan uang tidak bisa membeli barang akibatnya negara rentan terhadap segala macam kekacauan yang ditimbulkannya.
 2. Sebagai akibat dari kepanikan tersebut maka masyarakat cenderung untuk menarik tabungan guna membeli dan menumpuk barang sehingga banyak bank di rush akibatnya bank kekurangan dana berdampak pada tutup (bangkrut ) atau rendahnya dana investasi yang tersedia.
3. Produsen cenderung memanfaatkan kesempatan kenaikan harga untuk memperbesar keuntungan dengan cara mempermainkan harga di pasaran.

b.  Dampak Positif
1.   Masyarakat akan semakin selektif dalam mengkonsumsi, produksi akan diusahakan seefisien mungkin dan konsumtifme dapat ditekan.
2.   Inflasi yang berkepanjangan dapat menumbuhkan industri kecil dalam negeri menjadi semakin dipercaya dan tangguh.
3.   Tingkat pengangguran cenderung akan menurun karena masyarakat akan tergerak untuk melakukan kegiatan produksi dengan cara mendirikan atau membuka usaha.

5.   MASALAH PENGANGGURAN DAN KEBIJAKAN FISIKAL         
           
Dalam menerangkan mengenai peranan kebijakan fisikal dalam menghadapi masalah pengangguran, analisis yang akan dibuat dibedakan kepada dua pendekatan : dengan menggunakan grafik Y=AE, dan grafik AE-AS. Dalam menjalankan kebijakan fisikal dapat dilakukan tiga bentuk tindakan : (a) mengubah pengeluaran pemerintah saja, (b) mengubah pajak saja, (c) secara serentak mengubah pengeluaran pemerintah dan pajak. Dalam analisis di bagian ini yang akan diterangkan adalah kebijakan fisikal yang dinyatakan dalam (a) dan (b) diatas. Selanjutnya dalam analisis yang dibuat akan dimisalkan perubahan pengeluaran pemerintah yang dilakukan adalah sama dengan perubahan pajak.       

·       EFEK KEBIJAKAN FISKAL:PENDEKATAN Y=AY.

Grafik(a) menunjukkan efek kebijakan fiskal apabila pengangguran berlakudalam
 perekonomian dan pertambahan pengeluaran pemerintah sebesar Agdilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.Sedangkan gambar(b) menunjukkan efek kebijakan fiskal apabila perubahan itu dilakukan melalui penurunan pajak dimana AT=AG.

·       Perubahan keseimbangan yang berlaku.

Description: Image result for gambar kurva pengangguran dan efek kebijakan fiskal

Dalam grafik (a) dimisalkan keseimbangan asal dicapai di titik E1.Keseimbangan ini menunjukkan pendapatan nasional adalah Y1 dan dalam keseimbangan ini pengangguran berlaku.Untuk mengatasinya pemerintah menambah pengeluarannya sebanyak AG dan pertambahan pengeluaran ini memindahkan pengeluaran agregat dari AE1 ke AE2.Perubahan tersebut berarti keseimbangan bergeser ke E2 dan pendapatan nasional meningkat dari Y1 ke Y2.perubahan akan menambah kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran.


Dalam grafik (b) yang menunjukkan efek pengurangan pajak ke atas keseimbangan pendapatan nasional,juga dimisalkan keseimbangan yang asal adalah di E1.Pengangguran pajak sebesar AT(yang sama nilainya dengan AG) akan menambah pendapatan disposebel rumah tangga sebesar :Ayd=AT.Pertambahan pendapatan disposebel ini akan menaikkan pengeluaran rumah tangga,akan tetapi kenaikan pengeluaran itu adalah kurang dari AG. Yaitu hanya sebesar :AC=MPC.AG. Kenaikan pengeluaran rumah tangga tersebut akan memindahkan pengeluaran agregat menjadi AE2 dan keseimbangan menjadi E2. Maka pendapatan nasoinal baruakan dicapai di Y1.=Pendapatan nasional bertambahdan oleh sebab itu kesempatan kerja meningkat dan pengangguran akan berkurang.

·       Perbandingan Mengenai Sebab yang Berlaku

               Dari grafik (a) dan (b) dapatdiambil kesimpulan bahwa Y0Y1 dalam grafik (b)adalah kurang dari Y1Y2 dalam grafik (a). Hal ini berlaku dalam keadaan dimana diasumsikan AG=AT.Yang menyebabkan perbedaan tersebut adalah karena pengurangan pajak akan menambah pengeluaran agregat (yang berlaku sebagai akibat pertambahan konsumsi rumah tangga) pada jumlah yang lebih kecil dari AG.Dari perbedaan efeknya ini dapat disimpulkan bahwa multiplier pajak adalah lebih kecil dari multiplier pengeluaran pemerintah.
                  Kebaikan lain penambahan pengeluaran pemerintah  apabila di bandingkan dengan pengurangan pajak sebagai alatkebijakan fiskal adalah :efek pertambahan pengeluaran pemerintah dalam menggalakkan kegiatan ekonomi adalah lebih cepat dari efek pengurangan pajak.
























·       EFEK KEBIJAKAN FISKAL :PENDEKATAN ANALISIS AD-AS
                Untuk menunjukkan efek kebijakan fiskal kepada keseimbangan endapatan nasionaldarikegiatan ekonomi adalah dengan menggunakan analisis AD-AS.
Perhatikan gambar 10.5.

Description: Image result for gambar kurva pengangguran dan efek kebijakan fiskal
Keseimbangan yang asal adalah di E0 yaitu pada perpotongan di antara kurva AD0 dan dalam gambar 10.5 kurva Asadalah landai karena dimisalkan dalam perekonomian masih terdapat banyak pengangguran.Pada keseimbangan ini tingkat harga adalah P0 dan pendapatan nasional adalah Y0.Apabila pengeluaran pemerintah bertambah sebanyak AG maka kurva AD0 akan bergeser ke AD1.Besarnya nilai tersebut di tentukanoleh nilai Y1Y  dalam gambar (a) dari gambar 10.4,yaitu pada harga tetap,kenaikan pengeluaran pemerintah menambah pendapatan nasional sebanyak Y1Y2 dan perubahan itu adalah sama dengan perubahan titik keseimbangan dari titik E0 menjadi titik A.Kurva AD1 memotong kurva AS di titik E1 dan berarti kebijakan fiskal dengan menambah pengeluaran pemerintah sebesar AG akan menyebabkan keseimbangan pendapatan nasional bergeser ke E1 .Keseimbangan ini menunjukkan tingkat harga meningkat dari P0 ke P1 dan pendapatan nasional riil bertambah dari Y0 ke Y1 adalah lebih kecil dari Y1Y2 dalam gambar 10.4 (a).









  1. KEBIJAKAN MONETER DAN MASALAH PENGANGGURAN
               Efek kebijakan moneter dalam mempengaruhi kegiatan ekonomi,juga dapat digunakan dua pendekatan :pendekatan menggunakan grafik Y=AE dan analisis AD-AS.

Description: Image result for gambar kurva pengangguran dan efek kebijakan fiskal




·       EFEK KEBIJAKAN MONETER DALAM ANALISIS Y=AE

Efek kebijakan moneter di tunjukkan dalam gambar 10.6(a).Pengeluaran agregat yang mula mula berlaku dalam ekonomi di tunjukkan oleh AE0 dan dengan demikian pendapatan nasional adalah Y0.
Untuk mengatasi pengangguran dan menggalakkan kegiatan ekonomi bank sentral menambah penawaran uang.Langkah ini menurunkan suku bunga dan menggalakkan para pengusaha menambah investasi,yaitu sebesar a1.Pertambahan investasi tersebut memindahkan pengeluaran agregat dari AE0 menjadi AE1 dan memindahkan keseimbangan dari E0 ke E1.Dengan demikian pendapatan nasional meningkat menjadi Y1.Peningkatan ini menambah kesempatan kerja dan mengurangi pengangguran .Perubahan kegiatan ini berlaku pada harga yang tidak mengalami perubahan yaitu di asumsikan tingkat harga yang berlaku adalah P0.


                                                    
·       EFEK KEBIJAKAN MONETER DALAM ANALISIS AD-AS.
Dari grafik (b) gambar 10.6 yang menggambarkan efek kebijakan moneter ke atas keseimbangan AD-AS ,pendapatan nasoinal riil dantingkat harga.Penawaran agregat dalam perekonomian itu di gambarkan olehkurva AS,yang landai bentuknya karena dimisalkan terdapat banyak pengangguran dalam perekonomian.Permintaan agregatyang asal adalah AD0 dan titik A menggambarkan keseimbangan yang mula mula dicapai dan keseimbangan ini adalah sama dengan E0 pada grafik(a) yang menggambarkan pendapatan nasional riil adalah Y0 dan tingkat harga P0 .
Dengan menggunakan grafik (a)bahwa kebijakan moneter akanmemindahkan pengeluaran agregat dari AE0 ke AE1 dan menigngkatkan pendapatan nasional dari Y0 ke Y1.Dalamkan  grafik (b)perpindahan tersebut di gambarkan oleh perubahan AD0 menjadi AD1 dan jarak AB sama dengan Y0Y1.Permintaan agregat AD1 memotong penawaran agregat AS di titik C.Dengan demikian,sebagai akibat dari kebijakan moneter keseimbangan AD-AS berubahdari titik A ke titik C.Perubahan ini menggambarkan perubahan berikut:efek dari kebijakannya di jalankannya kebijakan moneter pendapatan nasional riil meningkat dari Y0 menjadi Y2 dan tingkat harga meningkat dari P0 menjadi P1.
Grafik (b) menjelaskan gambar bahwa menurut analisis Y=AE.Perubahan pengeluaran dalam perekonomian menyebabkan pertambahan yang lebih besar kepada pendapatan kepada pendapatan nasional apabila di bandingkan dengan dalam analisis AD=AS.Hal ini disebabkan karena perbedaan pemisalandalam kedua analisis tersebut.Dalam analisis Y=AE dimisalkan harga tidak berubah .Akan tetapi dalam analisis AD=AS harga dapat mengalami perubahan .Uraian di atas menunujukkan harga mengalami kenaikan ,yaitu dari P0 menjadi P1.Perubahan ini menyebabkan (i)konsumsi rill rumah tangga berkurang(ii)ekspor berkurang dan (iii)impor bertambah.Oleh karena itu dalam analisis AD-AS pendapatan nasional riil hanya meningkat ke Y2 dan bukan ke Y1. 







  1. KEBIJAKAN FISKAL UNTUK MENGATASI INFLASI
Dengan menggunakan grafik 10.7 grafik tersebut akan di terangkan bagaimana kebijakan fiskal akan digunakan untuk mengatasi masalah inflasi.Kebijakan fiskal yang akan dilaksanakan adalah dalam bentuk mengurangi pengeluaran pemerintah.



·       EFEK KEBIJAKAN FISKAL MENURUT PENDEKATAN Y=AE
             Dalam menerangkan efek kebijakan fiskal ini maka uraian akan di badakan kepada dua keadaan:keadaan dimana dimisalkan inflasi berlaku tanpa di kontrol pemerintah dan inflasi yang diatasi melalui kebijakan fiskal.Dalam gambar 10.7 akan dijelaskan.
Pengeluaran agregat yang awal adalah AE (P0) dan pengeluaran ini mewujudkan keseimbangan titik E0,pendapatan nasional adalah Y0 dan tingkat kesempatan kerja penuh hampir di capai.Seterusnya misalkan kenaikan ekspor menambah pengeluaran agregat dan pada waktu yang sama kenaikan harga harga menjadi lebih cepat.Tanpa kebijakan pemerintah pengeluaran agregat  akan mencapai AE(p1)yaitu harga harga juga mengalami kenaikan dan mencapai P1.Dengan demikian kenaikan pengeluaran agregat tersebut telah menimbulkan efek berikut:pendapatan nasional meningkat dari Y0 menjadi Y1 dan tingkat harga meningkat dari P0 menjadi P1.Oleh karena itu Y1 lebih besar dari Yf tingkat pengangguran adalah sangat rendah.

Description: Image result for gambar 10.7 Inflasi dan kebijakan fiskal

Seterusnya perhatikanlah fek kebijakan fiskaldalam usaha mengatasi inflasi.Dalamkasus ini ,sejak permulaan lagi pemerintah bahwa pertambahan pengeluaran agregat yang besar yaitu dariAE(P0)menjadi AE(P1)menyebabkan tingkat inflasi bertambah cepat.


·       EFEK KEBIJAKAN FISKAL DALAM ANALISIS AD-AS
           Efek kebijakan fiskal dalam mengendalikan inflasi ,dapat pula digunakan dengan analisis AD-AS.Dengan menggunakan analisis ini dapat ditunjukkan dengan lebih jelas bagaimanaperubahan pengeluaran dan kebijakan belanjawan akan mempengaruhi kegiatan ekonomi dan tingkat harga.Analisis inidapat di terangkan lebih baik dengan menggunakan grafik (b)dari gambar 10.7.
                Keseimbangan yang asal dalam perekonomian tersebut dicapaidititik A.Keseimbangan memberikan gambar mengenai keadaan yang sama yang ditunjukkan oleh titik E0 dalam ganbar (a) yaitu pendapatan nasional riil adalah Y0 dan tingkat harga P0.Telah di terangkan bahwa tanpa pengawasan dan kebijakan pemerintah,pengeluaran agregat meningkat dariAE P0 menjadi AE P1.Dalam gambar (b)perubahan tersebut menunjukkan oleh peralihan kurva keseimbangan pendapatan nasionalyang baru ini harga meningkat dari P0 menjadi P1 dan pendapatan nasional riil adalah Y1.Dengan demikian ,walaupun terjadi peningkatan dalam pendapatan nasional riil .tingkat inflasi juga sangat tinggi.Maka sejak awal pemerintah berusaha menghindari kenaikan harga yang tinggi dengan menjalankan kebijakan fiskal ,yaitu dengan mengurangi pengeluaran pemerintah .Efek dari kebijakan fiskal ini permintaan agregat hanya meningkat menjadi AD2 sajadan keseimbangan AD-AS dicapai di titik C.Keseimbangan itu menunjukkan tingkat kesempatan kerja penuh dicapai dan pendapatan nasional riil adalah Y1.Tingkat hargayang baru adalah P2 yang lebih rendah dari P1  dan berarti kebijakan fiskal dapat mengendalikan inflasi.
.
  1. KEBIJAKAN MONETER UNTUK MENGATASI INFLASI
              Grafik pada gambar 10.7,efek kebijakan moneter dalam menghadapi inflasi dapat ditunjukkan.yaitu yang terdapat dalam bagian (a) dan(b). Dalam uraian berikut yang dapat digunakan adalah bagian (b) yang terdapatdalam gambar 10.8.
Kesembangan asal dicapai di titik E0  yaitu pada perpotongan penawaran agregat AS dan permintaan agregat  AD0.Dengan demikian tingkat harga adalah P0 dan pendapatan nasional riil adalah AD1 dan akan menimbulkan keseimbangan di E1.Dengan demikian apabilapemerintah tidak melakukan pengawasan terhadap pertumbuhan pengeluaran agregat,pendapatan nasional meningkat dari Y0 ke Y1 tetapi peningkatan ini di ikutioleh kenaikan harga yang tinggi, yaitu dari P 0 ke P1.Misalkan pemerintah ingin tetap menginginkan perkembangan ekonomi hingga ke tingkat kesempatan kerja penuh,tetapi juga berusaha menciptakan perubahan harga harga yang lebih stabil.Hal itu akan dicapai apabila pemerintah dapat mengendalikan perubahan permintaan agregat (AD) yaitu memindahk  kurva AD1 menjadi AD2.

Description: Image result for gambar 10.8 efek kebijakan moneter dalam mengatasi inflasi                          
                  Apabila usaha untuk mengurangi inflasi di lakukan dengan kebijakan moneter,yang akan dilakukan oleh pemerintah adalah menurunkan penawaran uang,penurunan ini akan menaikkan suku bunga.Sebagai akibatnya,pertama langkah ini akan menyebabkan perusahaan dan penanam modal baru mengurangi kegiataninvestasinya.Kedua,kenaikan suku bunga akan mengurangi keinginan rumah tangga untuk membeli rumah baru.Ketiga,rumahlamayangmasih di angsur ,harus membayar bayaran bulananyang lebih tinggi.

·       KEBIJAKAN FISKAL ATAU KEBIJAKAN MONETER
            Dalam analisis ini,kebijakan fiskal dan moneter digunakan untuk mengatasi masalah yang dihadapi.Adakah ini berlaku dalam praktek? Sebenarnyatidak.kedua kebijakan pemerintah ituharus dijalankan secara bersamaan dan langkah langkah yang di jalankan haruslah saling memperkuat kebijakan pemerintah yang di jalankan.
Kebijakan fiskal dan kebijakan moneter di jalankan olehdua pihak yang berbeda.Kebijakan fiskal di jalankan oleh Kementerian Keuangan dan kebijakan moneter di jalanka oleh Bank Sentral.Kedua industri ini haruslah menyesuaikan kebijakan ekonominya dalam mengatasi masalah yang dihadapi.Apabila tidak demikian ,yaitu apabila langkah mereka menimbulkan efek yang bertentangan yaitu satu pihak menjalankan langkah langkah untuk mengatasi inflasi dan pihak lainnya menjalankan kebijakan mengatasi penganguran ,kebijakan yang bertentangan itu tidak akan mencapai tujuannya,Untuk meningkatkan kebijakan kebijakan pemerintah masing masing institusi di atas perlu menjalankan hal berikut:

i.                    untuk mengatasi pengangguran :Bank Sentral perlu menurunkan suku bunga dan Kementrian Keuangan menambah pengeluaran pemerintah yang dapat diikuti pula dengan pengurangan pajak.Langkah tersebut akan menyebabkan kenaikan dalam agregat sebagai:kenaikan investasi,kenaikan pengeluaran rumah tangga (konsumsi).
ii.                  Untuk mengatasi inflasi:tindakan yang perlu dijalankan Bank Sentral adalah mengurangi penawaran aung dan menaikkan suku bunga.Kebijakanmoneter ini akan mengurangi investasi dan pengeluaran rumah tangga (konsumen).Seterusnya ,Kementrian Keuangan perlu mengurangi pengeluaran dan menaikkan pajak individu dan perusahaan.Langkahtersebut dapat mengurangi pengeluaran pemerintah ,mengurangi investasi dan mengurangi pengeluaran rumah tangga. 



9.   KEBIJAKAN SEGI PENAWARAN
            Kebijakan segi penawaran pada hakikatnya merupakan kebijakan pemerintah untuk mempengaruhi magnitude dari berbagai komponen pengeluaran dan permintaan agregat. Sedangkan kebijakan penawaran adalah langkah-langkah pemerintah yang bertujuan untuk mempengaruhi penawaran agregat (AS). Dalam uraian berikut diterangkan bagaimana kebijakan segi penawaran digunakan untuk mengatasi masalah stagflasi dan pengangguran.
Description: Image result for gambar 10.9 stagflasi dan kebijakan segi penawaran




            Untuk mengatasi masalh tersebut pemerintah menjalankan kebijakan segi penawaran yaitu melakukan langkah-langkah yang menurunkan biaya produksi perusahaan (misalnya dengan mengurangi pajak ke atas bahan mentah atau menetapkan harga bahan mentah) dan menggalakkan perkembangan teknologi.

·       INFLASI DAN KEBIJAKAN SEGI PENAWARAN
Selanjutnya perhatikan pula bagaimana masalah inflasi yang timbul diatasi dengan menjalankan kebijakan segi penawaran. Perhatikan gambar 1.10. Keseimbangan permulan dicapai di E0, yaitu pada perpotongan AD0 ke AS0. Pada keseimbangan ini harga P0 dan pendapatan Nasional riil Y0, perkembangan ekonomi yang pesat memindahkan permintaan agregat dari AD0 menjadi AD1, dan memindahkan keseimbangan ke E1, yang menggambarkan inflasi (harga naik dari P0 ke P1) dalam keadaan ekonomi yang berkembang ( pendapatan Nasional riil bertambah dari Y0 ke Y1).

Description: Image result for gambar 10.10 inflasi dan segi penawaran




                                                 
·        PENGANGGURAN DAN KEBIJAKAN SEGI PENAWARAN
Untuk memahami bagaimana kebijakan segi penawaran akan digunakan untuk mengatasi masalah pengangguran perhatikanlah Gambar 1.11.
Keseimbangan ekonomi dicapai di E0 dan menggambarkan (i) pendapatan nasional riil  dan tingkat harga masing-masing adalah Y0 dan P0 dan (ii) terdapat pengangguran yang serius dalam perekonomian oleh karea pendapatan nasional riil yang wujud adalah jauh di bawah Yf. dalam usaha untuk mengatasi pengangguran pemerinta melakukan beberapa tindakan tersebut kurva AS0, bergeser ke AS1. Pada masa yang sama beberapa usaha dalam kebijakan segi penawaran tersebut akan enaikkan kesempatan kerja dan pendapatan. Perubahan ini akan emindahkan kurva AD0 menjadi AD1. Keseimbangan baru yaitu perpotongan antara AS dan AD1 dicapai di E1 dan berarti tingkat harga relatife stabil pada P0 dan pendapatan nasional riil meningkat dari Y0 ke Y1 dan pertambahan ini akan mengurangi pengangguran.

kasus
1. Pemerintah Waspadai Potensi Kenaikan Harga BBM ke Inflasi
Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah mulai mewaspadai tren kenaikan harga minyak dunia yang berpotensi berdampak pada penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) di 2017.

Lantaran pengaruh dari kondisi tersebut, inflasi akan terkerek naik lebih dari 4 persen sehingga dapat menekan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution mengatakan, rencana kenaikan tarif tenaga listrik (TTL) golongan 900 VA dan kemungkinan penyesuaian harga BBM akibat kenaikan harga minyak dunia memicu risiko bergeraknya laju inflasi lebih tinggi di 2017.

"Tarif listrik naik, harga BBM tekanannya mulai naik karena harga minyak dunia naik. Jadi bisa meningkatkan inflasi, dan kalau inflasi rada tinggi, konsekuensinya ke tingkat bunga BI yang bakal mengalami tekanan," ujar dia di acara Prospek Ekonomi Indonesia 2017 di Balai Kartini, Jakarta, Senin (19/12/2016).





















BAB III
PENUTUP

A.                Kesimpulan
Inflasi adalah kecenderungan dari harga-harga untuk menaik secara umum dan terus-menerus. Kenaikan harga dari satu atau dua barang saja tidak disebut inflasi, kecuali bila kenaikan tersebut meluas kepada (atau mengakibatkan kenaikan) sebagian besar dari harga barang-barang lain. Jenis-jenis inflasi dibagi Menurut Sifatnya, sebabnya, dan berdasarkan Asalnya.
Ada banyak hal yang ditimbulkan oleh inflasi yang berdampak negatif, diantaranya adalah keadaan perekonomian menjadi kacau dan perekonomian dirasakan lesu, menimbulkan ganggguan pada fungsi uang, mengakibatkan berkurangnya investasi di suatu negara, mendorong kenaikan suku bunga, mendorong penanaman modal yang bersifat spekulatif, kegagalan pelaksanaan pembangunan, ketidakstabilan ekonomi, defisit neraca pembayaran, dan merosotnya tingkat kehidupan dan kesejahteraan masyarakat. Namun ada beberapa dampak positif yang masih bisa ditimbulkan oleh inflasi, seperti Masyarakat akan semakin selektif dalam mengkonsumsi, serta tingkat pengangguran cenderung menurun karena masyarakat akan tergerak untuk melakukan kegiatan produksi dengan cara mendirikan atau membuka usaha.

                                                
B.                Saran
Hendaknya Pemerintah lebih memprioritaskan dalam menganalisa dan menanggulangi masalah-masalah ekonomi yang berdampak menyeluruh bagi segala aspek kehidupan masyarakat dengan tidak terlalu terpaku pada masalah-masalah sederhana lainnya yang sebetulnya disengajakan untuk mengambil alih perhatian publik. Serta melakukan pembenahan didalam struktur dan sistem birokrasi dari penyaluran-penyaluran anggaran pembangunan agar dapat meminimalisir penyelewengan yang selama ini terjadi, sehingga efisiensi dan efektivitas pengeluaran pemerintah dapat ditingkatkan.



DAFTAR PUSTAKA


         Putong, Iskandar. 2010. Pengantar Mikro dan Makro Jilid 4. Jakarta: Wacana Media

         Boediono. Dr. 1980. Ekonomi Makro Edisi Keempat. Yogyakarta: BPFE-Yogyakarta

  Sukirno, Sadono. 2004. Makro Ekonomi Teori Pengantar Edisi Ketiga. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada


Suparmoko, M. 1991. Pengantar Ekonomika Makro. BPFE. Yogyakarta
Sukirno,Sadono.1985. Pengantar Teori Makroekonomi.Bina Grafika. Jakarta















Tidak ada komentar:

Posting Komentar